• koma

ARTIS ITU AKHIRNYA BERTAUBAT…

“Aku melihat diriku telah melakukan sebuah maksiat dan kesalahan yang sangat besar kepada Tuhanku dan agamaku.

Karena itu aku berharap Allah berkenan mengampuni dan memaafkanku.”

Inilah yang dikatakan oleh mantan bintang film, Halah Fu’ad setelah ia menyatakan taubatnya dan meninggalkan dunia artis, lalu akhirnya mengenakan hijabnya. Ia akhirnya mengumumkan akan fokus mengurus suami, anak-anak dan rumahnya. Ia mengisahkan kisahnya sebagai berikut:

Sejak kecil dan di dalam hatiku ada sebuah perasaan yang kuat yang mendorongku untuk mengikuti ajaran agama dan memegang teguh nilai-nilai dan perilaku yang terpuji. Itu tepatnya terjadi saat aku duduk di tingkat SMP. Aku sama sekali tidak menyenangi kehidupan yang dipenuhi gemerlap atau tampil di tengah masyarakat seni.

Waktu itu, kebahagiaan terbesarku adalah jika aku dapat tetap tinggal di rumahku. Namun begitulah dorongan nafsu yang jahat, selalu melihat kehidupan orang lain dan berbagai pembenaran-pembenaran syaitani; semuanya itu berada di balik perjalananku di dunia artis.

Dan akhirnya Allah pun berkehendak untuk mengujiku dengan sebuah musibah yang kemudian mengembalikanku ke jalan fitrahku. Dari balik musibah itu akhirnya menjadi jelas bagiku jalan yang sesat dan jalan petunjuk, di saat mana justru aku sedang berada di ujung tanduk kematian. Itu terjadi pada saat aku menjalani proses persalinan yang terakhir.

Ari-ari menutupi jalan rahimku. Para dokter kemudian menggunakan perangsang buatan 3 hari sebelum masa persalinan. Namun aku mengalami pendarahan hebat yang dapat mengancam kehidupanku. Akhirnya, aku harus menjalani proses operasi caesar. Setelah menjalani proses itu, aku masih terus merasakan  rasa sakit. Lalu pada hari ketujuh di mana seharusnya aku meninggalkan rumah sakit, aku dikejutkan dengan rasa sakit yang hebat pada kaki kananku. Terjadi pembengkakan dan warnanya mengalami perubahan.

Para dokter mengatakan bahwa terjadi penyumbatan pada pembuluh darah. Dalam kondisi seperti ini dari dalam diriku muncul suatu bisikan: “Sungguh Allah tidak ridha terhadapmu, dan Dia tidak akan menyembuhanmu kecuali jika engkau meninggalkan dunia film, karena di dalam dirimu engkau telah meyakini bahwa dunia film adalah haram. Tapi engkau sendiri yang mencari pembenaran untuk melakukannya, nafsu yang selalu menyuruh kepada dosa. Lalu akhirnya engkau berpegang pada sesuatu yang tidak berguna untukmu.” Perasaan ini sangat menggangguku, karena aku sangat mencintai dunia peran. Aku bahkan merasa tidak pernah bisa hidup kecuali dengan itu.

Pada saat yang sama, aku merasa takut mengambil keputusan untuk meninggalkannya lalu kemudian kembali lagi menjalankannya, hingga menyebabkan aku mendapatkan siksa yang pedih.

Yang penting akhirnya aku kembali ke rumahku. Aku mulai merasakan proses penyembuhan, alhamdulillah. Kaki kananku mulai membaik dengan sangat baik. Lalu tiba-tiba dan tanpa peringatan rasa sakit berpindah ke kaki kiriku. Sebelum itu, aku merasakan rasa sakit di punggungku. Para dokter menyarankanku untuk melakukan pengobatan alternatif (alami), karena seluruh otot-ototku mengalami rachitis sebagai akibat aku terlalu lama berbaring di atas tempat tidurku. Namun aku sangat terkejut ketika rasa sakit itu berpindah ke kaki kiriku dengan rasa sakit yang jauh lebih berat dari yang pertama.

Seorang dokter menuliskan sebuah resep untukku. Obat-obat yang diberikannya sangat kuat. Aku merasakan rasa sakit yang luar biasa di tubuhku. Sang dokter juga memberikan sebuah suntikan lain yang sangat kuat untuk mengobati rasa sakit yang kedua kakiku. Namun aku tidak merasa lebih baik. Bahkan kondisiku semakin buruk.

Pada saat itulah aku merasa sangat sangat drop. Nafas-nafasku menjadi semakin lemah. Aku menyaksikan semua orang yang ada di sekitarku dengan samar-samar.

Dan tiba-tiba aku mendengarkan suara yang mengatakan: “Ucapkanlah la ilaha illallah, karena sekarang engkau berada dalam nafas-nafas terakhirmu!”

Maka aku pun mengucapkan: “Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah.” Aku mengucapkan dua kalimat syahadat.

Pada saat itulah aku berbicara pada diriku sendiri dan mengatakan padanya: “Engkau akan segera dimasukkan ke liang kubur. Engkau akan segera menemui Allah dan mendatangi negeri akhirat. Lalu bagaimana engkau akan menghadap Allah sementara engkau tidak menjalankan perintahNya.

Engkau menghabiskan kehidupanmu dengan tabarruj?

Apa yang akan engkau katakan pada saat amalmu akan dihisab?

Apakah engkau akan mengatakan bahwa syetan telah mengalahkanku?

Sungguh, aku benar-benar menyaksikan kematian itu di depan mataku. Tapi sayang sekali, kita semua betapa seringnya pura-pura melupakan detik-detik kematian itu. Andai saja setiap orang mau merenungkan saat-saat itu, maka kita pasti akan terus bekerja untuk kehidupan hari akhirat.

Singkatnya, aku melakukan perhitungan cepat terhadap diriku di saat-saat itu, lalu tiba-tiba aku merasakan nafas-nafasku dapat kutarik kembali. Aku mulai melihat semua orang yang berdiri di hadapanku dengan jelas…Kulihat wajah suamiku berubah merah. Ia menangis tersedu-sedu. Ayahku berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Sedangkan ibuku, ia berdiri di sudut kamar memanjatkan doa-doanya kepada Allah. Aku bertanya kepada sang dokter: “Apa yang telah terjadi?”

“Bersyukurlah kepada Allah! Ia telah memberimu sebuah kehidupan yang baru.”

Pada peristiwa itu, aku mulai memikirkan peristiwa yang kualami dan mengejutkan para dokter itu bersama semua orang yang hadir di sekitarku…

Aku merenungkan tentang kehidupan ini, betapa singkatnya ia. Betapa ia tidak layak mendapatkan perhatian sebesar ini dari kita. Aku pun memutuskan untuk mengenakan hijab dan bekerja untuk berkhidmat untuk rumah dan anak-anakku. Aku memutuskan untuk berkonsentrasi untuk mendidikan mereka dengan benar. Dan inilah misi terbesarku.

Begitulah, Halah akhirnya kembali ke jalan Tuhannya. Ia mengumumkan keputusan terakhirnya: meninggalkan dunia film; profesi yang selama ini hanya membuat kaum wanita menjadi makhluk hina dan murah. Mereka dipermainkan oleh para hamba syahwat dan dunia.

 

***

Alih bahasa:

Muhammad Ihsan Zainuddin

Sumber:  al-Mausu’ah al-Kubra li al-Qashash al-Mu’atstsirah li al-Fatayat.

Share This Post

About Author: adminkio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *