• ihsan-saroroti

BELAJAR DARI SARIROTI

BELAJAR DARI SARIROTI…

 

Sariroti mengajarkan kita satu hal penting.

 

Terlepas dari kajian marketing tentang kesalahan “pengumuman blunder” itu,

Sariroti mengajarkan kita

tentang pentingnya loyalitas (al-Wala’)

dan anti-loyalitas (al-Bara’).

Betapa bahwa dalam hidup ini,

ada yang jauh lebih bernilai dari sekedar keuntungan bisnis.

Betapa bahwa dalam bisnismu,

ada nilai yang tak terjamah yang harus selalu kau perjuangkan.

Sebuah nilai yang “unlimited”;

tak terhingga hingga kau rela mengorbankan segenap yang kau punya.

 

Sariroti telah menunjukkan kepada kita al-Wala’ dan al-Bara’-nya.

Bahwa ia berWala’ kepada “Wali”nya yang entah siapa.

Dan bahwa ia berlepas diri (Bara’) dari aksi 212 kita yang indah.

 

Maka malulah kita sebagai muslim

yang belum menjelaskan hidupnya

kepada siapa ia memberikan al-Wala’ dan al-Bara’-nya.

Malulah kita sebagai muslim

yang masih bingung siapa “Wali” kita?

(NB: Kata “wali” itu berakar kata dari kata “al-Wala’”)

Masih bingung siapa “kawan” dan “lawan”.

Masih bingung siapa “sahabat”, siapa “musuh”.

 

Maka terjadilah tragedi yang lebih memprihatinkan.

Kita yang sudah ikut kajian bertahun-tahun,

tapi masih saja keliru dalam membumikan “al-Wala’ wa al-Bara’” kita.

 

Karena tidak setuju dengan ijtihad “Aksi Super Damai 212”,

lalu ada yang merasa bahagia hatinya

jika ada ketergelinciran dalam aksi mulia ini.

Senyumnya mengembang puas,

jika ada ada satu atau dua tetes noda dalam lautan aksi super damai ini.

Tidurnya baru terasa nyenyak,

jika para ulama dan jutaan kaum muslimin dicibir oleh musuh Islam.

 

Seringkali tanpa sadar,

karena kebencian yang hebat pada bid’ah,

kita lupa bahwa bid’ah itu tidak sama kualitasnya.

Kita lupa bahwa muslim yang kita tuduh melakukan bid’ah itu

masih menyandang predikat “muslim” dalam kebid’ahannya.

Dan karena ia masih muslim, ia adalah saudaramu!!!

Ia layak mendapatkan nasehat lembutmu.

Ia layak mendapatkan doa-doa tulusmu.

Terkadang ia pun layak menerima teguran kerasmu.

Tapi bukan dengan semangat memuaskan amarahmu yang dahaga.

 

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- mengatakan:

“Jika dalam diri seseorang (muslim) berkumpul

kebaikan dan keburukan,

kedurhakaan dan ketaatan serta kemaksiatan,

sunnah dan bid’ah,

maka ia berhak mendapatkan Wala’ dan pahala

sesuai dengan kadar kebaikan pada dirinya.

Dan ia pantas pula mendapatkan sikap permusuhan dan hukuman

sesuai dengan kadar keburukan pada dirinya.

Sehingga pada diri seseorang,

terkumpullah apa yang melayakkannya

mendapatkan pemuliaan serta penghinaan…”

(Majmu’ al-Fatawa, 28/209)

 

Kali lain, beliau menulis:

“Di antara pelaku bid’ah itu

ada yang miliki iman pada batin dan zhahirnya;

namun padanya ada kejahilan dan kezhaliman

hingga ia terjatuh dalam kesalahannya pada Sunnah.

Maka (yang seperti) ini bukanlah orang kafir atau munafiq.

Lalu bisa jadi padanya ada kedurhakaan dan kezhaliman,

hingga ia menjadi fasiq atau pendosa.

Bisa jadi pula ia tersalah dalam menakwilkan,

sehingga kesalahannya diampuni.

Bisa jadi pula ia memiliki iman dan taqwa,

yang (membuatnya) layak mendapatkan pertolongan dari Allah

sesuai dengan kadar iman dan taqwanya.”

(Majmu’ al-Fatawa, 3/353-354)

 

Yah, Manhaj Ahlussunnah mengajarkan kita

untuk belajar menakar cinta dan benci dengan adil.

Karena ketakwaan itu;

adalah  saat rasa bencimu tak membuatmu lupa bersikap adil.

Saat rasa bencimu tak menghunjammu berbuat zhalim.

 

Memang sulit sekali tunaikan amalan indah ini, Kawan,

jika kita tak punya rasa keadilan yang kukuh dalam diri.

Jika kita hanya bisa “menyamaratakan” orang lain.

Jika kita hanya gemar “membumihanguskan” vonis di luar kelompok kita.

 

Belajarlah kita pada kelapangan jiwa dan kebersihan hati

seorang Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah;

saat ia berujar tentang mereka yang memusuhi bahkan mengkafirkannya:

“…dan aku berlapang dada terhadap siapa yang menyelesihiku.

Kerna sungguh jika ia melampaui batasan-batasan Allah terhadap diriku;

dengan mengkafirkanku, memfasikkanku,

menuduh palsu atau tindakan fanatisme jahiliyah (terhadapku),

maka aku takkan melampaui batasan-batasan Allah terhadap dirinya.

Bahkan aku akan mengendalikan apa yang aku katakan dan perbuat.

Dan aku akan menimbangnya dengan timbangan keadilan…”

(Majmu’ al-Fatawa, 3/245-246)

 

Maka nasehatku, Kawan:

Tuntutlah ilmu dengan kebeningan hati.

Bukan dengan jiwa penuh kemarahan dan kebencian.

Belajarlah Islam bukan dengan semangat kedengkian.

Hadirilah majlis ilmu untuk mentazkiyah hati,

agar hati kita “saliim” saat menghadapNya.

Bukan dengan semangat menikmati “pembid’ahan” dan “penyesatan”.

 

Semoga ilmu itu memudahkan jalanku dan jalanmu

meniti jejak-jejak Firdaus tanpa hisab dan adzab yang mendahuluinya.

Amin.

 

 

Akhukum wa Muhibbukum fiLlah,

Muhammad Ihsan Zainuddin

#KamiAlumni212

 

 

 

Share This Post

About Author: adminkio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *