• doa-syaban

BENARKAH DOA “ALLAHUMMA BAARIK LANA FI RAJAB WA SYA’BAN…”?

doa-syabanDoa ini sangat populer. Para ustadz dan mubaligh sering menyebut-nyebutnya di bulan Rajab dan Sya’ban menyambut bulan Ramadhan. Bunyi doanya adalah:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.”

Ada beberapa hal yang harus dicatat tentang ini:

Pertama, tidak ada satu hadits pun yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkait keutamaan bulan Rajab. Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

“Tidak ada hadits shahih yang menyebutkan keutamaan bulan Rajab. Bulan Rajab tidak memiliki keistimewaan dibandingkan bulan Jumadal Akhirah sebelumnya selain bahwa ia termasuk bulan-bulan Haram saja. Karena itu, maka di dalamnya tidak ada puasa, shalat, umrah dan apapun yang dianjurkan. Kedudukannya sama dengan bulan-bulan lain.” (Lih: Liqa’ al-Bab al-Maftuh, 26/174)

Kedua: doa tersebut diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin al-Imam Ahmad dalam Zawa’id al-Musnad (no. 2346), al-Thabarny dalam al-Awsath (no. 3939), al-Baihaqi dalam al-Syu’ab (no. 3534), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (6/269). Namun sanadnya dhaif (lemah). Dalam jalur periwayatannya terdapat 2 perawi yang lemah:

  1. Ziyad al-Numairy:

Yahya bin Ma’in mendhaifkannya. Abu Hatim mengatakan: ia tidak dapat dijadikan hujjah. Ibnu Hibban menyebutnya dalam kitab al-Dhu’afa’ dan mengatakan: “Tidak boleh dijadikan hujjah”. (Lih. Mizan al-I’tidal 2/91).

  1. Za’idah bin Abi al-Ruqad:

Perawi ini “lebih parah” daripada Ziyad. Al-Bukhary dan al-Nasa’i mengatakan: “Haditsnya munkar”. Ibnu Hibban mengatakan: “Ia meriwayatkan hadits-hadits munkar…tidak bisa dijadikan hujjah hadits-haditsnya.” (Lih: Tahdzib al-Tahdzib, 3/305-306)

Hadits ini juga didhaifkan oleh al-Nawawi dalam al-Adzkar (hal. 189), Ibnu Rajab dalam Latha’if al-Ma’arif (hal. 121), juga oleh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’ (no. 4395).

Selain lemah, hadits itu juga tidak menyebutkan bahwa ia diucapkan di awal malam bulan Rajab. Doa itu hanya menyebutkan keberkahan yang bersifat mutlak, dan ini tidak hanya berlaku pada bulan Rajab dan juga sebelum bulan Rajab.

Ketiga: Meminta kepada Allah agar disampaikan kepada bulan Ramadhan tidak mengapa dilakukan. Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan:

“Mu’alla bin al-Fadhl berkata: ‘Dahulu mereka berdoa kepada Allah Ta’ala 6 bulan lamanya agar disampaikan kepada bulan Ramadhan, lalu selama 6 bulan berikutnya mereka berdoa agar (ibadah mereka) diterima.’

Yahya bin Abi Katsir mengatakan: ‘Diantara doa mereka adalah: Allahumma sallimni ila Ramadhan, Sallim lii Ramadhan wa taslamuhu minnii mutaqabbalan.’ (Ya Allah, selamatkan aku hingga Ramadhan, selamatkan Ramadhan untukku, dan terimalah ia dariku).(Lih: Latha’if al-Ma’arif, hal. 148).

Setelah menjelaskan kelemahan hadits di atas, Syekh Abdul Karim al-Khudhair hafizhahuLlah (anggota Dewan Ulama Besar Saudi) menjelaskan bahwa tidak mengapa jika seorang muslim berdoa agar disampaikan oleh Allah Ta’ala ke bulan Ramadhan dan diberikan taufiq untuk beribadah dan mendapatkan Lailatul Qadr, dengan menggunakan doa-doa yang bersifat mutlak.

 

***

Disiapkan oleh:

Muhammad Ihsan Zainuddin

sumber: https://islamqa.info/ar/202017

Share This Post

About Author: adminkio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *