• Averoes

CATATAN UNTUK AQIDAH IBNU RUSYD (AL-HAFID)

Ibnu Rusyd dikenal sebagai “Averroes”. Meskipun dikenal sebagai sosok cendekia yang cerdas, namun patut disayangkan terdapat beberapa “catatan” untuk pemikiran dan ideologinya. Berikut senarai singkat tentang itu:

Pertama:

“Ibnu Rusyd” adalah sebuah nama yang digunakan oleh –setidaknya- 2 tokoh: Ibnu Rusyd al-Hafid (al-Hafid bermakna: sang cucu) dan Ibnu Rusyd al-Jadd (al-Jadd bermakna: sang kakek). Kedua tokoh ini memiliki kunyah: Abu al-Walid, juga memiliki nama yang sama: Muhammad bin Ahmad. Sebagaimana keduanya menjabat sebagai qadhi (hakim) di Cordova. Dan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah Ibnu Rusyd al-Hafid yang wafat tahun 595 H, yang dikenal banyak menulis dalam bidang filsafat. Adapun Ibnu Rusyd al-Jadd (wafat 520 H) sama sekali tidak terlibat dalam bidang filsafat.

Ibnu Rusyd al-Hafid dikenal dengan kecerdasannya dan juga ketawadhuannya. Di antara karya terkenalnya adalah Bidayah al-Mujtahid dalam fiqih, al-Kulliyyat dalam kedokteran, Mukhtashar al-Mustashfa dalam ushul fiqih., disamping karya-karya lain dalam filsafat yang intinya berusaha meringkas ide-ide filsafat Yunani. Sampai-sampai ia dikenal sebagai penyebar dan pembawa pemikiran Aristoteles, yang kemudian membawanya menyendiri di akhir perjalanannya. Pandangan-pandanganya yang asing pun menyebabkan ia dikucilkan oleh orang-orang di zamannya.

(Biografinya lebih lengkap dapat dilihat dalam Siyar A’lam al-Nubala’, 21/307-310).

 

Kedua:

Terjadi perdebatan yang panjang tentang hakikat dan eksistensi aqidah Ibnu Rusyd, namun dapat disimpulkan dalam poin-poin berikut:

  1. Menakwilkan Syariah agar sesuai dengan Filsafat Aristoteles:

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Ia adalah orang yang paling mengikuti pandangan-pandangan Aristoteles.” (Bayan Talbis al-Jahmiyyah, 1/120).

Ia berusaha menjelaskan dan mendekatkan pandangan Aristoteles dengan style bahasa Arab yang baru. Dan bersama dengan itu, jika ia menemukan kontradiksi pemikiran Aristoteles dengan prinsip-prinsip dasar Syariat, maka ia akan berusaha untuk melakukan penakwilan yang pada akhirnya meruntuhkan Syariat. Ia menempatkan Filsafat Aristoteles sebagai “rekanan” Syariat Allah.

  1. Keyakinannya bahwa ada unsur Zhahir dan Batin dalam Syariat:

Ibnu Rusyd sangat dalam menetapkan ide Batiniyah ini dalam buku-bukunya, hingga ia menjadikannya sebagai ciri paling menonjol untuk “Golongan yang selamat” dari umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.(Lih: al-Kasyf ‘an Manahij al-Adillah, hal. 99 dan 150, cet. Markaz Dirasat al-Wihdah al-‘Arabiyyah).

Karena itu, Ibnu Taimiyah mengulas secara luas bantahan khusus untuk pernyataan-pernyataan Ibnu Rusyd dalam buku tersebut, serta menjelaskan kekeliruan penafsiran Bathiniyah terhadap nash-nash Syariat. Itu dilakukan Ibnu Taimiyah dalam 2 karya besarnya: Bayan Talbis al-Jahmiyyah dan Dar’u Ta’arudh al-‘Aql wa al-Naql.

3. Dalam pembahasan tentang hari kebangkitan dan pembalasan, Ibnu Rusyd cenderung pada pendapat kaum Filsafat bahwa kebangkitan itu hanya bersifat ruhani saja. Bahkan lebih sesat dari itu, Ibnu Rusyd menganggap pembahasan tentang ini hanya masuk dalam kategori ijtihadiyah, dan bahwa setiap orang hanya perlu mengikuti upaya berpikir yang dicapainya. (Lih. Al-Kasyf ‘an Manahij al-Adillah, 204).

4. Barangkali salah satu ciri khas pemikiran Ibnu Rusyd dalam buku-bukunya –dan di saat yang  sama menjadi penyebab paling menonjol terhadap kesalahannya- adalah tidak adanya perhatian Ibnu Rusyd terhadap al-Sunnah al-Nabawiyyah dalam kapasitasnya sebagai salah satu sumber Syariat. DR. Khalid Kabir ‘Allal mengatakan:

“Ibnu Rusyd tidak memberikan kedudukan yang layak terhadap al-Sunnah al-Nabawiyah sebagai sumber asasi bagi Syariat Islam setelah al-Qur’an al-Karim. Ia juga tidak menggunakannya secara luas dalam karya-karyanya di bidang ilmu Kalam dan Filsafat, sehingga begitu banyak hadits yang memiliki hubungan langsung dengan tema-tema pemikiran yang disinggungnya terluput darinya. Sebagaimana hadits-hadits yang digunakannya dalam karya-karya itu banyak yang tidak dipahami secara benar, dan dipahaminya dengan penakwilan menyimpang demi berkhidmat pada pemikiran dan paham Aristoteliknya.” (Lih: Naqd Fikr al-Failasuf Ibnu Rusyd, hal. 97)

 

Begitulah beberapa poin yang dapat menjelaskan catatan kritis para ulama terhadap aqidah Ibnu Rusyd al-Hafid, yang pada intinya berujung pada pengabaian terhadap begitu banyak timbangan dan kaidah yang mengatur batas-batas Syariah, serta mengajak untuk melakukan ta’wil dan ijtihad terhadap hal-hal yang telah menjadi prinsip dasar Syariat, hanya karena adanya pemikiran asing yang masuk dari peradaban kuno yang telah punah.

 

***

Disiapkan oleh:

Muhammad Ihsan Zainuddin

Sumber: Ba’dhu al-Ma’akhidz ‘ala ‘Aqidah Ibn Rusyd al-Hafid, www.islamqa.info.

 

 

Share This Post

About Author: adminkio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *