• hadits-ahad

HADITS AHAD DALAM MASALAH AQIDAH

hadits-ahad

Salah satu pandangan yang keliru terkait hadits Ahad adalah bahwa hadits Ahad tidak dapat dijadikan landasan dan dalil dalam persoalan dan pembahasan Aqidah, dengan alasan bahwa hadits Ahad “hanya” menunjukkan sesuatu yang bersifat zhan, dan zhan tidak dapat menjadi landasan dalam persoalan Aqidah.

Kekeliruan pandangan ini ditinjau dari beberapa sisi:

  1. Pandangan bahwa hadits Ahad hanya menunjukkan sesuatu yang bersifat yang zhan tidak bisa dibenarkan secara mutlak, karena ada hadits Ahad yang menunjukkan sesuatu secara yakin (al-Yaqin) jika didukung oleh indikasi dan faktor penguat (Qara’in) yang menunjukkan kebenarannya. Misalnya jika hadits itu telah diterima oleh umat secara luas. Seperti pada hadits Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu tentang niat:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Amalan-amalan itu bergantung pada niatnya.”

Hadits ini termasuk hadits Ahad, namun kita mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memang benar mengatakannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dan diteliti oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah, al-Hafizh Ibnu Hajar dan ulama lainnya.

  1. Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengutus person-person sahabat untuk menyampaikan prinsip-prinsip dasar Aqidah Islam –seperti Syahadat La ilaha illaLlah Muhammad Rasulullah- ke beberapa negeri; seperti Mu’adz ke Yaman. Dan pengutusan beliau dengan cara seperti itu merupakan hujjah yang harus diikuti. Pengutusan yang bersifat Ahad itu tetap menjadi hujjah bagi penduduk Yaman bahwa ajaran Islam telah disampaikan kepada mereka.
  2. Jika kita mengatakan bahwa hadits Ahad tidak bisa menetapkan masalah Aqidah, maka kita juga dapat mengatakan bahwa hukum-hukum amaliyah (selain Aqidah) tidak bisa ditetapkan dengan hadits Ahad; karena hukum-hukum amaliyah yang bersifat praktis itu juga dibarengi dengan aqidah/keyakinan bahwa Allah Ta’ala telah memerintahkan hal tersebut atau melarangnya. Jika pernyataan ini  diterima, maka banyak hukum Syariah yang akan terabaikan. Namun jika pernyataan ini tidak diterima, maka itu membantah dan menjawab pendapat bahwa Aqidah tidak bisa ditetapkan dengan hadits Ahad, sebab tidak ada perbedaan antara pembahasan Aqidah dan hukum-hukum amaliyah.

Kesimpulannya adalah bahwa hadits Ahad jika didukung dengan indikator (qara’in) yang menunjukkan kebenarannya, maka ia menetapkan semua ajaran Islam, baik yang bersifat ilmiah maupun amaliah. Lagipula tidak ada dalil yang membedakan antara masalah Aqidah dan yang lainnya.

  1. Bahwa Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk merujuk kepada perkataan ulama bagi orang yang tidak mengetahui perkara yang lebih besar dari persoalan Aqidah, yaitu risalah kenabian. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلاَّ رِجَالاً نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Dan tidaklah Kami mengutus sebelumnya melainkan para pria yang Kami wahyukan kepada mereka, maka bertanyalah kalian kepada ahli dzikir (ulama) jika kalian tidak mengetahui.” (al-Nahl: 43)

Dan perintah ini mencakup perintah bertanya kepada satu orang atau lebih dari itu.

 

***

 

Disiapkan oleh:

Muhammad Ihsan Zainuddin

Sumber: Syekh Muhammad al-‘Utsaimin, Fatawa al-‘Aqidah, hal. 18

Share This Post

About Author: adminkio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *