• satu nyawa

HANYA SATU NYAWA

 

Kisahnya sangat luar biasa.

Kisahnya menunjukkan kepada kita bahwa

jika hatimu dipenuhi oleh cahaya al-Qur’an

dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

maka jawaban-jawabanmu adalah cahaya!

 

Suatu ketika, dua orang Khawarij datang menemui Mutharrif bin ‘Abdullah.

Mereka tentu saja membawa misi sangat penting.

Mereka ingin mengajak Mutharrif untuk “hijrah” mengikuti jalan mereka, Kaum Khawarij.

 

Tidak banyak diskusi.

Bahkan nyaris tidak ada debat di majlis itu.

Mutharrif rahimahullah hanya mengatakan kepada mereka

-dan renungkanlah kata-kata penuh cahaya ini-:

 

“Wahai saudara!

Seandainya aku memiliki 2 nyawa,

maka akan aku izinkan salah satu dari kedua nyawaku itu untuk mengikuti jalan kalian.

Jika ternyata jalan kalian adalah jalan yang benar,

 maka aku akan mengikutkan satu nyawaku lagi dengan kalian.

 

Namun jika ternyata jalan kalian adalah sesat,

 maka setidaknya aku masih memiliki satu nyawa

dan biarlah nyawaku yang pertama itu binasa dan sesat bersama kalian…

 

Tetapi sayang sekali, aku hanya memiliki satu nyawa,

dan aku tak mungkin mempertaruhkan nyawa yang hanya satu-satunya ini!

 

Dan 2 pria Khawarij itu tak punya kata-kata lagi

untuk Mutharrif rahimahullah.

Mereka pun pergi.

 

***

 

Sahabat…

Bukankah itu adalah kata-kata yang luar biasa?!

Dan betapa kita sungguh-sungguh membutuhkan jawaban seperti ini

dalam setiap episode dan kisah hidup kita…

 

Jika suatu ketika, sebuah syubhat pemikiran tiba-tiba saja hinggap di hati kita,

mengajak bahkan menarik-narik kita untuk meninggalkan jalan ini,

jalan al-Salaf al-Shaleh,

maka katakanlah kepada pembawa syubhat itu:

“Sayang sekali, aku hanya mempunyai satu nyawa!

Tak akan kubiarkan satu-satunya nyawaku ini larut

dalam tamasya pemikiranmu yang tak berujung pangkal itu!”

 

 

Jika suatu ketika,

sebuah bisikan syahwat tiba-tiba menggoda dan mengelus-elus benteng keshalehan kita,

maka katakanlah kepada bisikan keji itu:

“Maaf-maaf saja…aku hanya mempunyai satu nyawa!

Tidak ada yang lain.

Maka silahkan kau pergi dan jangan mengelus-elusku lagi!”

 

Jika suatu ketika,

jiwa ini tergoda untuk malas dan meninggalkan jalan dakwah,

jalan tarbiyah,

dan jalan keshalehan,

maka ingatlah jiwa ini:

“Duhai jiwaku…nyawaku hanya satu.

Bantulah aku untuk tetap semangat menapaki tangga-tangga penghambaan ini,

hingga kelak kita menikmati rehat yang sesungguhnya di dalam Jannah.”

 

Subhanallah,

betapa jawaban Mutharrif itu inspirasi luar biasa untuk kita

dalam menerabas semua kesia-siaan hidup.

Ya, karena memang hanya ada satu nyawa.

Tidak dua.

Tidak pula seribu.

 

Hanya satu nyawa.

 

 

Akhukum wa Muhibbukum fiLlah,

Muhammad Ihsan Zainuddin

 

Share This Post

About Author: adminkio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *