• ihsan-taubat

KAPAN BERTAUBATNYA?

KAPAN BERTAUBATNYA, KAWAN?

 

 

Masih tentang kisah al-Fudhail bin ‘Iyadh –rahimahullah-…

 

 

Dalam  Kitab “Tadzkirah al-Huffazh”,

al-Dzahaby  menyebutnya sebagai:

“al-Imam” (imam),

“al-Qudwah” (teladan dan panutan),

“Syaikh al-Islam”,

dan “Syaikh al-Haram” (syekhnya Tanah Haram)…

 

 

Abdullah bin al-Mubarak menyatakan:

Bahwa ia telah berjumpa dengan manusia paling wara’.

Dan “manusia paling wara’ itu adalah al-Fudhail bin ‘Iyadh”, katanya.

 

 

Ibrahim bin Yazid bin al-Asy’ats mengatakan:

“Aku tak pernah melihat orang yang

Allah begitu agung dan besar di dadanya

melebihi al-Fudhail bin ‘Iyadh.

Jika ia mengingat Allah,

atau Allah disebutkan di hadapannya,

atau ia mendengarkan al-Qur’an,

akan tampaklah rasa takut dan sedih itu padanya…

Kedua matanya akan meneteskan airmata.

Ia akan menangis

hingga yang hadir di dekatnya akan mengasihaninya…”

 

Begitu mengagumkannya al-Fudhail bin ‘Iyadh,

hingga Ibrahim bin al-Asy’ats menyatakan:

“Sufyan bin ‘Uyainah pernah mencium tangannya

sebanyak 2 kali…”

(Anda tahu siapa itu “Sufyan bin ‘Uyainah”?

Kalau tidak tahu, cobalah cari tahu tentangnya…”

 

 

Tapi tahukah kita,

bahwa al-Fudhail bin ‘Iyadh dahulunya adalah

seorang penyamun yang ditakuti?

Yang melewatkan malamnya dalam dosa dan kejahatan?

 

 

Al-Fadhl bin Musa menceritakan:

Dahulu, al-Fudhail bin ‘Iyadh adalah

seorang penyamun yang suka merampok di jalan.

 

 

Kisah taubatnya bermula

saat ia dihempas rindu dan cinta pada seorang gadis.

Saat ia menaiki tembok untuk melihat pujaannya,

tetiba ia dengarkan

seorang pria membaca ayat:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ

“BELUMKAN TIBA saatnya

bagi orang-orang yang beriman,

untuk menundukkan hatinya mengingat Allah,

dan kebenaran yang diturunkanNya?”

(al-Hadid: 16).

 

 

Mendengar itu, al-Fudhail berujar:

“Tentu, wahai Tuhanku…

Sudah tiba waktunya…”

 

 

Ia pun pergi.

Dan malam yang kelam menghempaskannya

pada sebuah reruntuhan bangunan.

Ternyata di sana ada serombongan orang

yang juga berehat melewati malam.

Seorang dari mereka berujar:

“Ayolah kita bergegas berangkat!”

Tapi yang lain mengatakan:

“Tidak, Kawan…

Kita tunggu hingga pagi menjelang.

Karena malam ini,

Fudhail pasti akan merampok kita di tengah jalan.”

 

 

Al-Fudhail tertusuk dalam.

Kata-kata itu kini terasa begitu sakit,

dan menyiksanya.

Maka di kelam malam itu,

dengan lirih suaranya, al-Fudhail berucap:

“Duhai, aku melewati malam dalam dosa,

Dan sekarang kaum muslimin takut akan kejahatanku.

Duhai, pasti Allah-lah yang menuntunku pada semua ini

agar aku sadar…

Ya Allah,

Sungguh aku tlah bertaubat padaMu…”

 

 

Malam itu,

ia memberikan jaminan keamanan

untuk kafilah tersebut.

 

 

Setelah itu,

ia pergi menghilang.

Menghilang untuk melewati sisa usianya

dalam ibadah dan ilmu,

di sana…

di belahan bumi paling suci:

di sisi Ka’bah yang mulia…

di pelataran Masjidil Haram.

Hingga akhirnya kematian menjemputnya:

dalam ketaatan yang indah,

dalam kenangan masa yang tak lepas memujinya…

rahimahuLlah rahmatan waasi’ah…

 

***

 

 

Adakah yang lebih membahagiakan

daripada taubat kepada Allah?

Berapa menurutmu nilai nominal

kesempatan bertaubat itu

dalam kepingan rupiahmu?

1 Milyar?

1 Trilyun?

Demi Allah,

kesempatan bertaubatmu itu

bahkan jauh lebih bernilai daripada

dunia beserta isinya ini…

 

 

Jadi tinggalkanlah bisnis-bisnis harammu, Kawan…

Berhentilah dari akad-akad ribawimu, Sahabat…

Cukuplah sudah maksiat dan dosa itu,

mumpung kita masih diberi waktu:

untuk menata hidup dunia yang penuh berkah dan keindahan,

untuk akhirat yang dipenuhi kesenangan dan kebahagiaan belaka.

 

 

Jadi,

Kapan bertaubatnya, Kawan?

 

(Pertanyaanku untuk diriku sendiri).

 

 

Akhukum wa Muhibbukum fiLlah,

Muhammad Ihsan Zainuddin

 

Share This Post

About Author: adminkio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *