• kisah model

KISAH SANG MODEL DARI PARIS

 

Fabian namanya. Seorang model dan peragawati dari Paris. Seorang gadis berusia 28 tahun. Detik-detik hidayah itu hadir dalam hidupnya ketika ia tenggelam di dunia popularitas, daya tarik materi dan gemerlap yang luar biasa…

Ia menarik diri diam-diam…

Ia meninggalkan dunia itu dengan semua yang ada di dalamnya.

Ia pergi ke Afganistan untuk bekerja mengobari para pejuang Afgan yang terluka, dalam sebuah situasi yang berat dan kehidupan yang sulit…

Fabian menuturkan:

“Andai bukan karena karunia dan rahmat Allah padaku, pasti kehidupanku telah hilang di dunia di mana manusia akan terseret berubah menjadi hewan, di mana obsesinya hanyalah memuaskan keinginan dan syahwatnya tanpa nilai dan prinsip.”

Ia lalu menuturkan kisahnya dengan mengatakan:

“Sejak kecilku, aku selalu bermimpi untuk menjadi seorang perawat sukarela. Aku ingin sekali bekerja untuk meringankan rasa sakit anak-anak dan orang-orang sakit. Seiring perjalanan hari, aku pun tumbuh dewasa. Kecantikanku menarik perhatian banyak orang. Semua orang mendorongku –termasuk keluargaku- untuk meninggalkan impian masa kecilku, dan memanfaatkan kecantikanku untuk melakukan pekerjaan yang lebih mendatangkan keuntungan materi yang banyak, popularitas dan kegemerlapan. Untuk melakoni pekerjaan yang menjadi impian semua gadis, bahkan membuat mereka melakukan hal yang mustahil demi meraihnya. Dan jalan di hadapnku begitu mudah –setidak begitu yang tampak bagiku-. Begitu cepat aku merasakan popularitas itu. Hadiah demi hadiah berharga yang tidak pernah kuimpikan kini dapat kunikmati. Tapi semuanya harus dibayar dengan harga yang mahal…

Aku harus melepaskan kemanusiaanku. Syarat kesuksesan untuk itu semua adalah aku harus kehilangan perasaanku, melepaskan rasa malu yang selama ini aku terdidik dengannya sejak kecil. Aku harus membuang kecerdasanku. Aku tidak boleh berusaha memahami gerakan-gerakan tubuhku dan hentakan-hentakan musik di catwalk. Aku juga harus meninggalkan semua makanan-makanan yang enak dan hidup dengan vitamin-vitamin kimia dan berbagai suplemen…

Dan sebelum itu semua, aku harus kehilangan perasaanku terhadap manusia…Tidak boleh membenci…Tidak boleh mencintai…Aku tidak boleh menolak apapun. Rumah-rumah model telah membuatku tidak lebih dari sekedar sebuah patung bergerak yang tujuannya mempermainkan hati dan akal orang yang melihatnya…Aku benar-benar belajar bagaimana menjadi manusia yang dingin dan kaku, kosong dari dalam. Aku tidak lebih dari sekedar sebuah boneka yang mengenakan pakaian. Dengan begitu, maka aku, bahkan model manapun semakin ia melepaskan kemanusiaannya, maka kedudukannya akan semakin tinggi di dunia yang dingin itu…

Namun ketika ia melanggar satu saja dari ajaran dunia model, maka ia itu berarti ia telah menjerumuskan dirinya ke dalam berbagai bentuk ancaman, baik yang berupa ancaman psikis maupun fisik. Aku berkeliling dunia untuk memeragakan model terbaru dengan semua gemerlap, keangkuhan dan pemuasan terhadap dorongan-dorongan nafsu syetan, yang selalu berusaha menampakkan keindahan wanita tanpa sedikit pun rasa malu.

Fabiyan kemudian melanjutkan kisahnya:

“Aku tidak pernah merasakan keindahan model pakaian yang ada di atas tubuhku yang kosong ini akibat pandangan-pandangan penghinaan dan peremehan terhadap diriku meski mereka menghormati pakaian yang aku kenakan.

Dan itu memang benar. Kami benar-benar hidup dalam dunia yang hina dari semua sisinya…

Tentang perubahan jalan hidupnya dari kehidupan yang lalai kepada kehidupan yang sungguh-sungguh, ia menuturkan:

“Itu terjadi ketika kami sedang melakukan perjalanan ke Beirut yang saat itu telah hancur. Di sana aku melihat bagaimana orang-orang membangun hotel dan pemukiman di bawah kerasnya hantaman roket. Dengan mata kepalaku sendiri, aku menyaksikan bagaimana bangunan rumah sakit untuk anak-anak luluh lantak di Beirut. Aku tidak sendiri. Bahkan bersamaku ada kawan-kawanku, para “patung-patung hidup”…Tapi mereka tidak lebih hanya sekedar melihat saja, -dan seperti biasa- tanpa ada rasa peduli sedikit pun…Saat itu, aku tidak mampu untuk mengikuti gaya mereka…

Pada saat itu, semua belenggu popularitas, kesuksesan dan hidup  glamour yang pernah kujalani hancur begitu saja. Aku segera mendatangi anak-anak yang terluka untuk berusaha menyelamatkan mereka yang masih hidup.

Aku putuskan untuk tidak kembali kepada teman-temanku di hotel, di mana gemerlap cahaya sedang menantiku. Aku memulai perjalananku menuju kemanusiaan sejati hingga akhirnya aku sampai kepada jalan cahaya, yaitu jalan Islam.

Aku meninggalkan Beirut dan pergi ke Pakistan. Dan di wilayah perbatasan Afganistan, aku pun akhirnya merasakan sebuah kehidupan yang hakiki. Aku belajar menjadi seorang manusia. Kurang lebih selama 8 bulan lamanya aku berada di sini untuk membantu merawat keluarga-keluarga yang menderita akibat keganasan perang. Aku sungguh menyukai hidup bersama mereka. Mereka memperlakukanku dengan baik.

Keyakinanku kepada Islam sebagai agama dan undang-undang hidup semakin kuat saat aku hidup bersama mereka; hidup bersama keluarga-keluarga Afganistan dan Pakistan. Semakin kuat oleh cara mereka dalam berkomitmen pada Islam dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Lalu aku pun mulai memperlajari bahasa Arab, karena ia adalah bahasa al-Qur’an. Aku mengalami kemajuan yang pesat. Setelah selama ini aku mengambil pegangan hidupku dari para pencipta mode di dunia, kini hidupku berjalan mengikuti prinsip-prinsip dan semangat Islam…

Fabian akhirnya menuturkan bagaimana sikap rumah-rumah mode internasional terhadapnya setelah ia mendapatkan hidayahnya. Ia menegaskan bahwa ia harus menghadapi berbagai tawaran-tawaran duniawi yang luar biasa. Mereka mengirimkan berbagai tawaran untuk melipatgandakan penghasilan bulanannya hingga 3 kali lipat. Namun ia terus-menerus menolaknya…Mereka pun segera mengirimkan berbagai hadiah berharga untuknya dengan harapan ia bias mengubah keputusannya dan meninggalkan Islam…

Ia melanjutkan kisahnya:

“Kemudian mereka akhirnya berhenti membujukku untuk kembali…Mereka lalu berusaha memperburuk citraku di hadapan para keluarga Afganistan. Mereka mengirimkan sampul-sampul majalah yang pernah memuat gambar-gambarku saat bekerja sebagai foto model. Mereka menggantungnya di jalan-jalan. Mereka seperti ingin membalas dendam atas pertaubatanku. Mereka berusaha melakukannya, membuat permusuhan antara aku dan keluarga baruku, namun harapan mereka tidak berhasil, walhamdulillah…”

Fabian memandang kedua tangannya dan berkata:

“Aku tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari kedua tanganku yang terawat ini, yang selama ini aku menghabiskan waktuku untuk menjaga kelembutannya, ternyata aku gunakan untuk semua pekerjaan berat ini, di tengah pegunungan. Namun jerih payah yang berat ini pasti akan menambah kecemerlangan dan kesucian kedua tanganku. Ia akan mendapatkan balasan terbaik di sisi Allah Ta’ala, insya Allah.”

 

***

Alih bahasa:

Muhammad Ihsan Zainuddin

Sumber: al-Mausu’ah al-Kubra li al-Qashash al-Mu’atstsirah li al-Fatayat.

Share This Post

About Author: adminkio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *