• kisah asrama

KISAH TAUBAT DI ASRAMA

KISAH TAUBAT DI ASRAMA

 

Betapa ruginya seorang manusia ketika ia hidup di dunia ini tanpa tujuan. Betapa sengsaranya ia ketika ia tidak lebih dari seekor binatang, tidak ada yang dipikirkan selain makan, minum dan tidur. Tidak pernah mengetahui rahasia keberadaannya dalam kehidupan ini.

Seperti itulah keadaanku sebelum Allah mengaruniakan hidayah kepadaku. Aku hidup sejak kecil di sebuah rumah yang penghuninya taat beribadah kepada Allah. Hidup di antara kedua orang tua yang taat. Bahkan hanya mereka berdua saja yang taar di antara semua keluarga dan kerabat.

Sebagian kerabat bahkan mencela ayahku rahimahullah karena ia tidak membiarkan di rumahnya ada majalah-majalah rendahan dan alat-alat musik dan perusak. Mereka menyebutnya sebagai orang yang ekstrim dan keras kepala!!!

Berbeda dengan itu, aku hanya seorang muslimah karena “warisan” saja. Aku bahkan membenci agama dan para pemeluknya. Aku membenci shalat. Sepanjang hidupku di masa SMP dan SMA, aku tidak pernah sujud kepada Allah satu rakaat pun. Jika ayahku bertanya: “Apakah engkau sudah shalat?”

Maka aku akan menjawab: “Iya” sekedar untuk berbohong dan menyembunyikan yang sebenarnya. Aku sendiri mempunyai kawan-kawan yang buruk. Mereka semua berperan merusak dan membuatkan menyimpang. Mereka memberiku semua yang aku minta: majalah-majalah perusak, lagu-lagu gila dan film-film  tanpa sepengetahuan ayahku. Adapun pakaianku, aku sangat meremehkan hijab dan merasa tersiksa mengenakannya, karena aku tidak tahu mengapa ia diperintahkan.

Hari-hari pun berlalu, dan kondisiku masih seperti itu. Hingga akhirnya aku lulus dan selesai dari tingkat SMA. Setelah lulus, aku terpaksa meninggalkan kampungku menuju Riyadh untuk melanjutkan studi di universitas.

Di asrama universitas, aku berkenalan dengan beberapa kawan lain. Mereka sama saja, mendukungku dengan semua maksiat dan dosa yang pernah kulakukan, hanya saja mereka mengatakan: “Setidak-tidaknya engkau shalatlah seperti kami, setelah itu terserah engkau ingin mengerjakan dosa apa saja.”

Di sisi lain, adapula kawan-kawan yang taat beribadah. Mereka selalu menyampaikan nasehat kepadaku. Hanya saja sangat disayangkan mereka tidak menyampaikannya dengan cara bijak dan baik. Akibatnya aku pun bertambah keras kepala dan jauh dari Allah.

Dan ketika Allah menghendaki untuk memberiku hidayah, Ia menakdirkanku pindah ke kamar lain di asrama itu. Dengan taufiqNya, kali ini kawan-kawan baruku adalah para akhawat yang baik. Akhlak mereka sungguh mengagumkan. Cara mereka berdakwah dan memberi nasehat sungguh baik. Mereka selalu memberikan nasehat kepadaku dengan cara yang menarik. Bahkan mereka selalu tersenyum kepada dan berusaha memberiku bantuan apa saja yang aku butuhkan.

Jika mereka melihatku mendengarkan musik dan nyanyian, mereka menampakkan bahwa mereka terganggu dengan itu semua. Tapi mereka hanya keluar dari kamar tanpa mengatakan apapun kepadaku. Aku sendiri yang kemudian merasa tidak enak dan malu dengan apa yang kuperbuat.

Jika mereka kembali dari mushalla asrama menunaikan shalat, mereka akan mencariku di kamar. Mereka menampakkan kegelisahan mereka karena ketidakhadiranku mengerjakan shalat. Sungguh dari lubuk hatiku yang terdalam aku merasa malu dan menyesal. Bukankah aku memang pada dasarnya tidak pernah menunaikan shalatku, apalagi untuk mengerjakannya secara berjamaah?

Pada suatu hari, ketika aku bertugas mengawasi asrama, saat suara nyanyian yang kuputar terdengar begitu keras, salah seorang teman kamarku mendatangiku. Ia mengatakan:

“Apa ini? Mengapa engkau tidak mengecilkan suaranya? Sekarang engkau sedang berada dalam posisi penanggung jawab, engkau seharusnya menjadi teladan bagi yang lain.”

Aku berterus terang kepadanya, bahwa aku sedang mendengarkan nyanyian itu dan menyukainya. Kawan itu pun memandangku lama, lalu berkata:

“Tidak, ukhti…Ini adalah sebuah kesalahan. Engkau harus memilih: jalan kebaikan dan para pengikutnya, atau jalan keburukan dan para pengikutnya. Tidak mungkin engkau berjalan pada 2 jalan di saat yang sama!”

Pada saat itulah, aku tersadar dari kelalaianku. Aku merenungkan diriku sendiri. Aku pun mulai membayangkan di pikiranku kawan-kawan akhawatku yang dengan penuh keikhlasan telah menerapkan Islam dan berusaha keras untuk menyebarkannya dengan berbagai sarana dan cara yang menyenangkan.

Aku pun bertaubat kepada Allah. Aku mengumumkan taubatku dan kembali kepada fitrahku.

Sekarang, aku –alhamdulillah- adalah seorang da’iyah di jalan Allah. Aku menyampaikan kajian dan ceramah. Di sini aku menegaskan tentang kewajiban berdakwah, dan pentingnya akhlak bagi seorang da’i saat menghadapi orang lain. Tentu saja aku mengingatkan saudari-saudariku dari kawan-kawan yang buruk. Semoga Allah memberikan taufiqNya kepada kita semua.

 

***

Alih bahasa:

Muhammad Ihsan Zainuddin

Sumber: al-Mausu’ah al-Kubra li al-Qashash al-Mu’atstsirah li al-Fatayat

 

Share This Post

About Author: adminkio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *