• Quran-mufashal

MAKNA “SURAH MUFASHSHAL” DALAM AL-QUR’AN

Kita sering mendengarkan istilah “Surah-surah Mufashshal” dalam al-Qur’an. Nah, apa makna “al-Mufashshal” dalam surah-surah al-Qur’an?

“Al-Mufashshal” adalah surah-surah pendek dalam al-Qur’an yang banyak dipisahkan atau diantarai oleh kalimat Basmalah. Dinamakan “al-Mufashshal” karena kata ini bermakna “yang dipisah-pisahkan”, berasal dari kata “al-Fashl” yang bermakna pemisahan, yang kemudian telah menjadi Bahasa Indonesia: “Pasal”.

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan batasan Surah-surah al-Mufashshal ini; apakah ia bermula dari Surah Qaaf atau dari Surah al-Hujurat.

Para ulama juga berbeda pendapat dalam menentukan: mana surah-surah al-Mufashshal yang panjang, yang pertengahan dan yang pendek. Disebutkan dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah (33/48):

“(Para ulama) berbeda pendapat tentang al-Mufashshal (mana yang termasuk kategori panjang, pertengahan dan pendek-penj):

Kalangan Hanafiyah berpandangan bahwa surah-surah al-Mufashshal yang panjang bermula dari surah al-Hujurat sampai al-Buruj, yang pertengahan bermula surah al-Buruj sampai surah Lam Yakun (al-Bayyinah), dan yang pendek dimulai dari (al-Bayyinah) sampai akhir al-Qur’an.

Kalangan Malikiyah berpandangan bahwa surah-surah al-Mufashshal yang panjang bermula dari surah al-Hujurat sampai al-Nazi’at, yang pertengahannya bermula dari surah ‘Abasa hingga al-Dhuha, dan yang pendeknya  bermula dari surah al-Dhuha hingga akhir al-Qur’an.

Kalangan Syafi’iyah berpandangan bahwa surah-surah al-Mufashshal yang panjang seperti surah al-Hujurat, surah Iqtarabat (al-Qamar), dan surah al-Rahman. Yang pertengahan seperti surah al-Syams dan al-Lail, sementara yang pendek seperti surah al-‘Ashr dan al-Ikhlas.

Kalangan Hanabilah berpandangan bahwa awal surah-surah al-Mufashshal bermula dari surah Qaf, berdasarkan hadits Aus bin Hudzaifah yang berkata:

“Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimana mereka membagi hizb al-Qur’an? Mereka berkata: ‘Tiga, Lima, Tujuh, Sembilan, Sebelas, Tigabelas, dan hizb al-Mufashshal tersendiri.’” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dihasankan sanadnya oleh Ibnu Katsir dalam Fadha’il al-Qur’an, dan didha’ifkan oleh al-Albani dalam Dha’if Abu Dawud). Artinya-menurut Hanabilah-bahwa awal mula al-Mufashshal adalah surah 49 dihitung dari surah al-Baqarah, bukan dari surah al-Fatihah. Dan akhir surah panjangnya adalah surah ‘Amma (al-Naba’), ketegori pertengahannya dari situ hingga surah al-Dhuha, dan kategori pendeknya bermula dari situ hingga akhir al-Qur’an.”

 

Istilah al-Mufashshal sendiri digunakan secara masyhur di kalangan para sahabat, sebagaimana terdapat dalam banyak hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat. Hal ini menguatkan pandangan bahwa penamaan al-Mufashshal itu bersifat tauqifiyah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antara lain:

Dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Dahulu Mu’adz bin Jabal pernah shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian ia pulang mengimami kaumnya. Ia pun shalat Isya dengan membaca surah al-Baqarah. Lalu tiba-tiba seseorang (makmum) keluar meninggalkan (shalat itu), maka seakan-akan Mu’adz mencelanya (karena itu). Maka sampailah kabar itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pun berkata: ‘Penyebab fitnah! Penyebab fitnah! Penyebab fitnah!’ (sebagai teguran kepada Mu’adz-penj). Lalu beliau memerintahkan padanya (membaca) 2 surah dari (kategori) pertengahan al-Mufashshal…” (HR. al-Bukhari no. 701, dan Muslim no. 465).

 

***

Disiapkan oleh:

Muhammad Ihsan Zainuddin

 

Sumber: Tahdid al-Mufashshal min al-Qur’an, www.islamqa.info.

Jangan lupa bergabung dalam group FB Kuliah Islam Online:

http://bit.ly/grupkuliahislamonline

 

Share This Post

About Author: adminkio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *