• Holidays___Ramadan_Beautiful_Ramadan_2014_056445_

PANDUAN RAMADHAN 01: APA ITU PUASA DAN HUKUMNYA?

Holidays___Ramadan_Beautiful_Ramadan_2014_056445_

 

 

 

 

 

Apa Itu Puasa?

Secara bahasa, puasa dalam bahasa Arab disebut sebagai “al-Shaum”. Kata “al-Shaum” dalam penggunaan bahasa bermakna “menahan diri untuk melakukan sesuatu”. Sehingga orang yang –misalnya-menahan lisannya untuk tidak berbicara disebut juga “al-Sha’im”. 

Jika kata “al-Shaum” digunakan dalam terminologi Syariat Islam, maka ia bermakna: “menahan diri untuk melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar kedua hingga terbenam matahari”.

Puasa sendiri kemudian ada yang hukumnya wajib dan ada yang sunnah.

Puasa yang sunnah misalnya: puasa Senin-Kamis, puasa Ayyam al-Bidh (di pertengahan bulan hijriyah), dan puasa Dawud.

Sedangkan puasa yang wajib seperti: puasa Ramadhan, puasa Qadha’ (penggantian puasa Ramadhan), dan puasa pembayar kaffarat.

Nah, dalam serial artikel ini, kita akan membahas “Panduan Puasa Ramadhan”. Sedangkan untuk jenis puasa lainnya, in sya’aLlah akan dibahas dalam tulisan-tulisan khusus tentang itu.

 

Hukum Puasa Ramadhan

Umat Islam telah berijma’ tentang kewajiban melakukan puasa di bulan Ramadhan. “Berijma’” artinya bersepakat dan tidak berselisih pendapat tentang itu. Siapa yang menyelisihi ijma’ dalam suatu masalah, maka ia terancam tersesat, bahkan bisa keluar dari Islam.

Ijma’ tersebut didasarkan pada dalil-dalil al-Qur’an maupun al-Sunnah.

Dari al-Qur’an, misalnya firman Allah Ta’ala:

“Wahai sekalian orang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar supaya kalian bertaqwa.” (al-Baqarah: 183)

Sementara dalam hadits, terdapat banyak dalil yang juga menunjukkan kewajiban tersebut. Antara lain:

Hadits tentang rukun Islam yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang Islam yang dibangun di atas 5 dasar, salah satunya: “…Shaum Ramadhan…”; berpuasa di bulan Ramadhan (HR. al-Bukhari).

Karena itulah, berbuka dan tidak berpuasa tanpa udzur yang dibenarkan merupakan sebuah dosa besar yang sangat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan salah satu mimpi yang dilihatnya:

“…hingga ketika aku berada di sebuah puncak gunung, tiba-tiba (terdengar) suara-suara yang keras. Aku bertanya: ‘Suara apakah ini?’ (Para malaikat) menjawab: ‘Ini adalah erangan para penghuni neraka.’ Lalu aku pun dibawa berjalan, hingga aku bertemu dengan suatu kaum yang tergantung dengan kaki mereka, pipi geraham mereka tersobek hingga mengalirkan darah. Aku pun bertanya: ‘Siapa mereka?’ (Dijawab): ‘(Mereka adalah) orang-orang yang berbuka sebelum genap puasa mereka.’” maksudnya: sebelum tiba waktu berbuka.

Itulah sebabnya, al-Hafizh al-Dzahaby mengatakan:

“Telah ditetapkan di kalangan kaum beriman bahwa siapa yang meninggalkan puasa Ramadhan tanpa udzur yang dibenarkan, maka ia jauh lebih buruk daripada seorang pezina dan peminum khamar. Bahkan mereka meragukan keislamannya, dan memandangnya sebagai sebuah kezindikan dan penyimpangan.”

Syeikh al-Islam Ibnu Taimiyah mengatakan:

“Jika ia berbuka di bulan Ramadhan dengan keyakinan bahwa hal itu halal dilakukan, padahal ia mengetahui pengharamannya, namun ia telah menganggapnya halal, maka ia wajib dihukum bunuh. Jika ia (berbuka) karena kefasikannya, maka ia harus dihukum atas tindakannya berbuka di bulan Ramadhan.” (Majmu’ al-Fatawa, 25/265)

 

***

 

Disiapkan oleh:

Muhammad Ihsan Zainuddin

Sumber: Syekh Muhammad Shalih al-Munajjid, Sab’una Mas’alah fi al-Shiyam.

Share This Post

About Author: adminkio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *