• Healthy-Ramadan

PANDUAN RAMADHAN 07: ADAB-ADAB RAMADHAN (bagian 3)

Selanjutnya kita akan membahas bagian terakhir dari pembahasan “Adab-adab Ramadhan”.

 

Ketujuh, Menahan emosi dan amarah, serta tidak berteriak melampiaskan kemarahan:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang ini:

“Dan jika ada seseorang menyerangnya atau mencacinya, maka hendaklah ia mengatakan: ‘Sungguh aku berpuasa, sungguh aku berpuasa.’” (HR. al-Bukhari).

Dalam hadits ini, ungkapan “sungguh aku berpuasa” diulang sebanyak 2 kali: yang pertama untuk mengingatkan dirinya sendiri, dan yang kedua untuk mengingatkan lawannya.

Ingatlah bahwa inti ibadah puasa adalah pengendalian diri terhadap hal-hal yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat, dan menahan diri dengan menunda kesenangan untuk kebahagiaan abadi di dalam Surga.

 

Kedelapan, Tidak terlalu banyak makan:

Waktu berbuka bukanlah saat untuk melampiaskan hasrat dan rasa lapar. Saat berbuka bagi seorang hamba yang berpuasa sudah cukuplah dengan beberapa butir kurma dan beberapa teguk air. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah anak Adam memenuhi sebuah bejana yang lebih buruk daripada perutnya…” (HR. al-Tirmidzi, dan ia mengatakan: hadits ini hasan shahih)

Orang yang berakal makan untuk hidup, dan bukan hidup untuk makan. Dan sebaik-baik makanan adalah makanan yang dimanfaatkan untuk kebaikan, sementara seburuk-buruk makanan adalah makanan yang diberi khidmat dan perhatian sedemikian rupa.

Bulan Ramadhan –sangat disayangkan- bagi sebagian kalangan justru menjadi ajang berlomba-lomba menyajikan dan menyiapkan berbagai bentuk kuliner, hingga terkadang anggaran konsumsi Ramadhan justru lebih besar daripada bulan-bulan lainnya.

Berlebihan dalam makanan akibatnya membuat hamba menjadi berat dan malas untuk beribadah di bulan Ramadhan. Akibatnya bulan Ramadhan pun terlepas tanpa ibadah yang berarti dalam hidup seorang hamba.

 

Kesembilan, Berusaha untuk lebih dermawan:

Dermawan dengan apa saja. Berderma dengan ilmu, harta, kedudukan yang dimiliki, atau kemampuan fisik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal sebagai seorang yang sangat dermawan, namun ketika bulan Ramadhan tiba kedermawanan beliau semakin dahsyat. Hingga digambarkan dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

فلرسول الله صلى الله عليه وسلم أجود بالخير من الريح المرسلة

“Maka sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (di bulan Ramadhan) itu lebih dermawan dengan kebaikan daripada angin yang dihembuskan.” (HR. al-Bukhari).

Salah satu bentuk kedermawanan itu adalah dengan memberi buka puasa kepada yang berbuka puasa. Betapa indahnya jika kedua ibadah mulia ini berpadu: berpuasa dan memberi buka puasa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Siapa yang memberi buka seorang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala yang sama dengannya, tanpa dikurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun.” (HR. al-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih al-Targhib 1/451).

Karena itu, sebagian ulama salaf-seperti ‘Abdullah bin Umar, Malik bin Dinar, Ahmad bin Hanbal-lebih mengutamakan orang-orang miskin dengan makanan buka mereka. bahkan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma tidak berbuka kecuali bersama anak-anak yatim dan kaum miskin.

Jika tidak punya uang? Yah, Anda bisa berderma dan bersedekah dengan potensi lain yang Anda miliki. Yang pasti jangan lewatkan hari-hari Ramadhan kecuali Anda telah bersedekah di dalamnya.

 

***

Disiapkan oleh:

Muhammad Ihsan Zainuddin

Sumber:

Muhammad Shalih al-Munajjid, Sab’uuna Mas’alah fi al-Shiyam.

Share This Post

About Author: adminkio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *