• hukum puasa

PANDUAN RAMADHAN 08: HUKUM UMUM IBADAH PUASA

Selanjutnya, dalam artikel tentang Ramadhan ini, kita akan membahas beberapa hukum umum ibadah puasa, untuk memberikan pandangan dan wawasan umum untuk Anda dalam berpuasa. Sebab ibadah puasa –sebagaimana diketahui- tidak hanya di bulan Ramadhan, karena selain puasa Ramadhan ada juga puasa lain yang hukumnya wajib.

Pertama, ibadah puasa itu ada yang wajib dikerjakan secara berturut-turut dan tidak terpisah –seperti puasa Ramadhan, puasa kaffarah dalam kasus pembunuhan yang keliru (al-khatha’), puasa kaffarah dalam kasus Zhihar, dan puasa kaffarah orang yang melakukan jima’ di siang hari Ramadhan (dimana ia harus berpuasa 2 bulan berturut-turut). Begitu pula orang yang bernadzar untuk puasa berturut-turut, maka ia harus memenuhi nadzar tersebut.

Ada pula puasa yang tidak harus dilakukan secara berturut-turut dan BOLEH dilakukan secara terpisah. Contohnya adalah puasa qadha’ (penggantian) Ramadhan, puasa 10 hari bagi orang berhaji yang tidak mempunyai hewan hadyu untuk disembelih, puasa kaffarah dalam kasus sumpah (menurut pendapat Jumhur ulama), puasa fidyah atas pelanggaran hal-hal terlarang dalam ihram (berdasarkan pendapat yang kuat). Begitu pula puasa nadzar yang tidak dibatasi dengan waktu untuk pelaksanaannya.

 

Kedua, Puasa Sunnah itu menutupi kekurangan yang ada dalam puasa wajib. Seperti misalnya: puasa ‘Asyura, puasa Arafah, puasa Senin dan Kamis, puasa 6 hari di bulan Syawal, serta memperbanyak puasa di bulan Muharram dan Sya’ban.

Semua puasa sunnah tersebut in sya’aLlah dapat menutupi celah dan kekurangan yang terjadi dalam puasa-puasa wajib yang dikerjakan oleh seorang muslim.

 

Ketiga, Terdapat larangan mengkhususkan hari Jum’at dengan berpuasa (HR. al-Bukhari no. 1985), begitu pula dengan hari Sabtu, kecuali untuk melakukan puasa wajib (HR. al-Tirmidzi, 3/111, dan dihasankan olehnya). Dan yang dimaksudkan dengan “mengkhususkan” adalah mengkhususkannya dengan berpuasa tanpa sebab.

Puasa terlarang lainnya adalah puasa selama setahun penuh, puasa wishal (menyambung puasa ke hari berikutnya tanpa berbuka-penj).

Juga diharamkan berpuasa pada  2 hari raya dan hari-hari tasyriq (yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah), karena itu adalah hari-hari untuk makan-minum dan berdzikir kepada Allah. Namun bagi orang yang menunaikan ibadah haji dan tidak memiliki hewan hadyu untuk disembelih, maka ia boleh memulai puasa fidyahnya di Mina pada tanggal 11, 12 dan 13 itu.

 

***

Disiapkan oleh:

Muhammad Ihsan Zainuddin

Sumber: Syekh Muhammad Shalih al-Munajjid, Sab’uuna Mas’alah fi al-Shiyam.

Share This Post

About Author: adminkio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *