• ramadan-anak-anak

PANDUAN RAMADHAN 10: SIAPA YANG WAJIB BERPUASA? (Bagian 1)

 

Baiklah, setelah kita mengetahui bahwa ibadah puasa Ramadhan itu hukumnya wajib, pertanyaan selanjutnya siapa saja yang wajib berpuasa? Atau dalam pertanyaan lain: apa saja syarat dan kriteria untuk wajib berpuasa?

Puasa wajib dilakukan oleh siapa saja yang memenuhi kriteria berikut ini:

  1. Muslim
  2. Baligh
  3. Berakal
  4. Bermukim (tidak sedang bermusafir)
  5. Tidak mengalami salah satu penghalang berpuasa, seperti: haid atau nifas.

 

Kriteria “Baligh” sendiri dari dipenuhi oleh 1 dari 3 hal:

  1. Keluarnya mani; baik dengan mimpi basah atau yang lainnya.
  2. Tumbuhnya rambut/bulu pada daerah kemaluan.
  3. Genap berusia 15 tahun

Khusus untuk wanita, maka ada 1 tambahan indikator untuk “Baligh”, yaitu: mengalami haidh. Sehingga kapan saja seorang anak perempuan mengalami haidh, maka ia wajib melakukan puasa, meskipun usianya kurang dari 10 tahun.

 

***

 

Bagaimana dengan anak kecil yang berusia di bawah 15 tahun? Apakah anak kecil seperti mereka juga diharuskan berpuasa?

Para ulama menyebutkan bahwa jika sang anak telah genap berusia 7 tahun, maka ia juga sebaiknya diperintahkan mulai berpuasa jika mampu. Bahkan sebagian ulama menyatakan: bahwa jika anak itu telah genap berusia 10 tahun dan masih belum bepruasa, maka ia boleh dipukul, sebagaimana dalam kasus anak berusia 10 tahun yang tidak mengerjakan shalat. (Lih: al-Mughni, 3/90)

Bagaimana dengan pahala puasa anak kecil? Iya, si anak itu mendapatkan pahala untuk puasanya, dan orangtua mendapat pahala mentarbiyah sang anak dan menunjukkan jalan kebaikan untuknya. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dari al-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz radhiyallahu ‘anha, yang mengatakan tentang puasa Asyura saat masih diwajibkan:

كنا نصوِّم صبياننا ونجعل لهم اللعبة من العهن فإذا بكى أحدهم على الطعام أعطيناه ذاك حتى يكون عند الإفطار

“Dahulu kami menyuruh anak-anak kami berpuasa dan kami membuatkan mereka mainan (boneka) dari jerami. Maka jika seorang dari mereka menangis karena ingin makan, kami akan berikan mainan itu hingga (ia bertahan) menjelang buka puasa.” (HR. al-Bukhari).

Dalam hal ini, patut menjadi catatan kita: bahwa ada sebagian orangtua yang meremehkan persoalan pembiasaan anak-anak mereka untuk berpuasa. Bahkan tidak jarang terjadi, sang anak begitu bersemangat untuk berpuasa dan ia mampu melakukannya, namun entah itu ayah atau ibunya menyuruhnya berbuka dengan alasan kasihan kepada mereka.

Para orangtua semacam ini lupa bahwa kasih-sayang yang sesungguhnya adalah justru ketika mendampinginya dalam berpuasa, karena dengan kebiasaan baik seperti itu ia akan terlindungi dari siksa api Neraka. Orangtua yang benar-benar sayang kepada anaknya adalah orangtua yang berusaha agar anak-anaknya tidak menjadi penghuni Neraka kelak di akhirat.

Allah Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang beriman, jagalah diri dan keluarga kalian dari Neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebeatuan, dijaga oleh para malaikat yang kasar lagi keras, mereka tidak pernah mendurhakai apa yang Allah perintahkan untuk mereka, dan mereka selalu melakukan apa yang diperintahkan pada mereka.” (al-Tahrim: 6)

Catatan terakhir: penting sekali memperhatikan puasa anak-anak putri pada saat ia pertama kali mengalami haidh, karena biasanya mereka tetap berpuasa pada saat darah haidhnya keluar akibat malu ketahuan haidh, lalu kemudian mereka tidak mengqadha’ atau mengganti puasanya di lain hari.

 

***

Disiapkan oleh:

Muhammad Ihsan Zainuddin

Referensi: Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid, Sab’uuna Mas’alah fi al-Shiyam

Share This Post

About Author: adminkio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *