• Human hand hold medicine

PANDUAN RAMADHAN 11: SIAPA YANG WAJIB BERPUASA (Bagian 2)

 

Masih terkait pembahasan: “Siapa yang wajib berpuasa”, selanjutnya kita akan membahas beberapa jenis kondisi manusia terkait kewajibannya menunaikan ibadah puasa.

 

Pertama, Jika seorang kafir kemudian masuk Islam, atau seorang anak kecil menjadi baligh, atau seorang yang hilang ingatan/kewarasan menjadi sadar dan waras; pada siang hari Ramadhan, maka mereka semua berkewajiban untuk berpuasa pada bagian hari itu yang tersisa, karena pada saat itu mereka menjadi orang yang memenuhi kriteria wajib berpuasa, meskipun mereka tidak berkewajiban mengganti puasa yang telah terlewatkan pada masa mereka masih kafir, atau belum baligh, atau tidak waras; karena pada saat itu mereka belum memenuhi kriteria untuk wajib berpuasa.

 

Kedua, Orang yang tidak waras adalah orang yang tidak memiliki beban kewajiban melakukan ibadah. Sehingga jika ada orang yang sesekali mengalami ketidakwarasan dan sesekali pula menjadi normal, maka ia hanya berkewajiban melakukan puasa pada saat ia dalam kondiri waras dan normal.

Jika ia telah memulai puasa, lalu di siang hari tiba-tiba hilang kewarasannya, maka puasanya tidak batal karena itu, sebagaimana orang yang berpuasa lalu tiba-tiba pingsan karena sakit atau yang lainnya, maka puasanya juga tidak batal karena itu; karena ia telah meniatkan untuk berpuasa pada saat ia masih waras dan berakal. (Lih: Syekh al-‘Utsaimin: Majalis Syahr Ramadhan, hal. 28)

Hukum yang sama juga berlaku untuk orang yang mengalami kesurupan di siang hari bulan Ramadhan.

 

Ketiga, jika ada seseorang yang berpuasa lalu meninggal dunia di pertengahan bulan Ramadhan, maka ia maupun ahli warisnya tidak memiliki tanggungan kewajiban untuk mengganti puasa untuk jumlah hari yang tersisa dari bulan Ramadhan.

 

Keempat, siapa yang tidak mengetahui kewajiban berpuasa Ramadhan, atau tidak mengetahui tidak bolehnya makan atau berjimak di siang hari Ramadhan, maka Jumhur ulama berpandangan bahwa orang seperti ini diberikan udzur jika ia memang berada dalam kondisi yang layak dan patut diberi udzur, seperti misalnya: karena baru masuk Islam, atau ia muslim yang hidup di negara yang mengalami perang, atau ia tumbuh sebagai muslim di negeri kafir yang sama sekali tidak ada informasi tentang Islam.

Adapun orang yang hidup di tengah kaum muslimin dan ia sendiri mampu untuk bertanya dan belajar, maka yang seperti ini tidak dapat diberikan udzur atas kesalahannya tersebut.

 

***

Disiapkan oleh:

Muhammad Ihsan Zainuddin

Sumber: Syaikh Muhammad Shalih al-‘Utsaimin, Sab’uuna Mas’alah fi al-Shiyam.

Share This Post

About Author: adminkio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *