• ihsan-perjalanan

PANDUAN RAMADHAN 12: HUKUM PUASA SANG MUSAFIR (Bagian 2)

 

Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas beberapa masalah terkait hukum puasa bagi seorang musafir; di antaranya syarat-syarat diperbolehkannya berbuka untuk musafir dan kapan seorang musafir diperbolehkan untuk membatalkan puasanya.

Berikut ini kita lanjutkan pembahasan masalah lain terkait hukum berpuasa bagi musafir:

 

Kelima, bila sang musafir telah sampai ke suatu negeri atau kota dan ia berniat untuk bermukim atau tinggal di situ lebih dari 4 hari, maka ia wajib untuk tetap berpuasa, menurut pandangan Jumhur ulama.

Maka seseorang yang melakukan perjalanan untuk melanjutkan studi di luar kota atau luar negeri hingga harus bermukim selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun lamanya, maka menurut Jumhur ulama –diantara para imam madzhab yang empat-orang seperti itu hukumnya sama dengan orang mukim yang wajib berpuasa dan menyempurnakan jumlah rakaat shalatnya.

Jika seorang musafir singgah atau melewati suatu negeri atau kota yang bukan kampung halamannya, maka ia tidak wajib untuk berpuasa kecuali jika ia berniat untuk mukim di situ lebih dari 4 hari, maka ia tetap berpuasa dan menyempurnakan shalat seperti seorang yang mukim. (Lih: Fatawa al-Da’wah, Syekh Ibn Baz, hal. 977).

 

Keenam, siapa yang memulai ibadah puasa dalam keadaan bermukim, kemudian di pertengahan siang ia melakukan perjalanan, maka ia diperbolehkan puasa, karena Allah Ta’ala telah menetapkan “perjalanan” (al-Safar) secara mutlak sebagai sebab untuk mendapatkan keringanan, berdasarkan firman Allah Ta’ala:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ

“Dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka (ia dapat mengganti) dengan jumlah (yang sama) pada hari-hari yang lain.” (al-Baqarah: 184)

 

Ketujuh, seseorang yang punya kebiasaan melakukan perjalanan (safar) karena pekerjaannya untuk kemaslahatan kaum muslimin, seperti: pengantar pos/kiriman, pengemudi kendaraan sewa, para pilot dan pelaut, maka mereka diperbolehkan berbuka meskipun mereka mempunyai tempat tinggal di negeri atau tempat tujuannya.

Adapun jika si pelaut itu bepergian bersama dengan istri dan semua fasilitasnya, dan ia terus melakukan perjalanannya, maka ia tidak mengqashar shalatnya dan tidak membatalkan puasanya. (Lih. Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 25/213)

 

Kedelapan, jika sang musafir tiba di kampung halamannya pada siang hari, maka para ulama berbeda pendapat tentang “Apakah ia wajib menahan atau tidak?”. Namun pendapat yang paling hati-hati adalah bahwa ia sebaiknya menahan untuk bagian yang tersisa pada hari itu demi menjaga kehormatan bulan puasa, namun ia tetap wajib mengganti puasa hari itu; baik itu ia menahan atau tidak menahan. (Lih: Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, 25/212).

 

Kesembilan, jika sang musafir mulai berpuasa di suatu negeri, lalu melakukan perjalanan ke negeri lain yang berpuasa lebih dahulu atau lebih lambat daripada negeri asalnya, maka hukumnya sama dengan hukum orang yang melakukan perjalanan ke negeri mereka; sehingga ia tidak berlebaran kecuali dengan mengikuti waktu lebaran mereka (jika ia berada di sana hingga akhir Ramadhan), meskipun ia berpuasa hingga melebihi 30 hari, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

الصوم يوم تصومون والإفطار يوم تُفطرون

“Berpuasa adalah hari dimana kalian berpuasa, dan berbuka (berlebaran) adalah hari dimana kalian berlebaran.” (HR. al-Tirmidzi)

Dan jika jumlah puasanya kurang dari 29 hari, maka ia harus mencukupkannya setelah hari raya hingga genap menjadi 29 hari, karena bulan hijriyah tidak pernah berkurang dari 29 hari. (Lih: fatwa Syekh Ibn Baz dalam Fatawa al-Shiyam, hal. 15-16)

 

***

Disiapkan oleh:

Muhammad Ihsan Zainuddin

 

Sumber:

Syekh Muhammad Shalih al-Munajjid, Sab’uuna Mas’alah fi al-Shiyam.

 

 

Share This Post

About Author: adminkio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *