• jalan-aspal-pohon-hijau-indah

PERJALANAN YANG PANJANG

Kita selalu butuh untuk berhenti sejenak…

Kesibukan yang terus menderu, pekerjaan yang tak kunjung berhenti, urusan demi urusan yang silih berganti meminta satu-satunya modal yang diberikan Allah Ta’ala kepada kita: waktu!

Belum lagi masalah demi masalah: seperti tidak pernah ada habis-habisnya. Baru saja kita bernafas lega, sejurus kemudian masalah lain –yang mungkin lebih besar- menghimpit dada hingga sesak.

Maka kita selalu butuh untuk berhenti sejenak…

***

Perjalanan kita sesungguhnya sangatlah panjang…

Tidak di dunia ini. Karena mungkin justru kisah kita di dunia adalah episode tersingkat dalam babak-babak perjalanan kita. Episode terpanjang kita justru dimulai saat kita mengakhiri kisah dunia kita. Saat ruh kita baru saja berpisah dengan jasad. Dan episode alam kubur kita dimulai…

Al-Qabru awwalu manazil-il-akhirah, sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu ketika (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ahmad Syakir).

Alam kubur adalah terminal pertama kehidupan akhirat. Sabda inilah yang seringkali membuat sahabat mulia, Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu berderai air mata setiap kali menyaksikan pekuburan. Hingga jenggotnya basah karena air mata…

Kehidupan alam kubur…berapa lama kita akan berada di sana?

Entahlah. 100 tahun. 200 tahun. Atau 1000 tahun. Hanya Allah jua yang mengetahuinya. Yang pasti kita hanya bangun dari sana saat Allah Ta’ala menetapkan hari itu sebagai Hari Kiamat. Kapan itu terjadi?

Entahlah. Tapi kelihatannya kehidupan alam kubur kita saja akan jauh lebih lama daripada kehidupan dunia yang sekarang kita jalani. Di dunia ini paling-paling usia kita hanya akan berkisar pada 60-70 tahun saja…dan itu sama sekali tidak lama (Duhai, coba ingat kembali masa-masa SD atau SMP, rasanya belum lama bukan? Padahal itu mungkin sudah berlalu 10 atau 20 tahun yang lalu…).

Sayangnya, dunia yang singkat ini terlalu gemerlap. Setidaknya untuk pikiran kita pendek ini. Gemerlapnya seringkali membuat kita lupa. Lupa hingga menganggap usia keduniaan kita masih lama. Lupa bahwa usia keduniaan kita mungkin hanya tersisa beberapa jam –bahkan mungkin menit- dari sekarang…

Maka kita sering lupa menyiapkan bekal untuk episode kehidupan yang lebih lama daripada dunia ini: episode akhirat. Pernahkah kita pusing memikirkan “cicilan” akhirat kita seperti sehari-hari kita pusing memikirkan cicilan motor, mobil dan rumah kita di dunia ini?

Kehidupan dunia memang singkat. Tapi bahagia-tidaknya kita di akhirat, sukses-tidaknya kita di sana ditentukan di sini: di dunia ini.

***

Jadi seorang muslim haruslah seorang visioner. Selalu punya pandangan yang tidak hanya jauh, namun harus sangat jauh ke depan. Karena ia yakin bahwa perjalanan hidupnya sangat panjang (bagaimana tidak panjang jika 1 hari di padang Mahsyar saja setara dengan 50.000 tahun dunia!).

Saat ia memandangi harta dunianya, ia akan selalu berpikir: bagaimana harta itu dapat berguna menjadi bekalnya di perjalanan yang super panjang di akhirat kelak.

Maka kesadaran tentang panjangnya babak-babak kehidupan kita yang sesungguhnya adalah kunci kebahagiaan sejati kita.

Makassar, 7 Rabi’ al-Tsani 1435 H

Muhammad Ihsan Zainuddin

Share This Post

About Author: Zainal Abidin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *