• perjalanan terakhir

PERJALANAN YANG PENUH VISI

Masih tentang perjalanan kita…

Perjalanan yang tak terlukiskan panjangnya. Dalam 2 babak besar: babak dunia dan babak akhirat. Babak pertamanya adalah babak yang paling menentukan babak berikutnya. Babak berikutnya adalah babak di mana setiap kita akan memetik buah dari benih-benih yang disemainya.

Sayangnya (atau bahkan: beruntungnya), babak pertama yang bernama dunia begitu sebentar. Sedemikian singkatnya sehingga nyaris tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan babak kedua yang bernama akhirat. Tapi begitulah, Allah Azza wa Jalla telah menetapkan dunia sebagai masa pendek yang paling menentukan.

Dunia…dunia…

Engkau sungguh “menakjubkan”!

***

Di dalam al-Qur’an, berulang-ulang kali, Allah Azza wa Jalla, Sang Pencipta dunia mengajarkan kita tentang dunia. Memperkenalkan kita tentang tabiat dan karakternya. Tentu agar kita belajar dan memahaminya. Hasil belajar dan pemahaman itu seharusnya –pada akhirnya- membentuk cara pandang yang benar terhadap dunia. Coba renungkan –misalnya- penggalan demi penggalan ayat ini (surah al-Qashash: 77):

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ

Kejarlah apa yang dijanjikan Allah untukmu di negeri Akhirat.

Perhatikanlah bagaimana Allah menegaskan prioritas hidup kita yang sesungguhnya. Mengejar dan terus memburu janji Allah di sebuah babak kehidupan yang sesungguhnya bernama: akhirat.

Di dunia ada kebahagiaan, tapi kebahagiaan sejati hanya di akhirat.

Di dunia ada kemewahan, tapi kemewahan sejati hanya di akhirat.

Di dunia ada wanita cantik, tapi kecantikan fisik dan rohani yang sejati hanya dimiliki para bidadari surga.

Di dunia ini kita hanya dihadapkan pada “replika-replika” kenikmatan yang hanya mewakili sedemikian kecil kenikmatan akhirat.

Begitu pula dengan kesengsaraan, kepedihan dan siksa. Jika kita merasakannya di dunia, maka itu hanya sebuah replika kecil yang tidak ada apa-apanya dibandingkan kesengsaraan dan kepedihan akhirat.

Jika engkau merasakannya karena keteguhan imanmu, maka bersabarlah karena itu tidak ada apa-apanya. Namun jika engkau merasakannya dalam kedurhakaan dan kekufuranmu, maka bertaubatlah karena siksamu di akhirat jauh lebih hebat dari keperihan duniamu.

Jadi inilah perjalanan yang penuh visi itu. Perjalanan yang selalu dipenuhi dengan akhirat. Semua langkah yang menjejak di permukaan bumiNya, adalah langkah-langkah penuh kerinduan pada janji Sang Penguasa alam semesta yang tak pernah ingkar janji…

***

Lalu dalam penggalan berikutnya…Allah Ta’ala ‘hanya’ berpesan:

وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

Namun jangan lupakan bagianmu di dunia.

Yah, karena babak dunia harus dilewati, maka ambillah seperlunya. Sekedar menghapus dahaga dan lapar dalam perjalanan panjang ke akhirat. Ambillah tapi bukan karena engkau akan membangun istana sejatimu di sini, tapi karena engkau membangunnya di akhirat. Tapi aku dan kau membangunnya di sini, di dunia ini. Inilah visi kita!

Makassar, Maret 2014

Muhammad Ihsan Zainuddin

Share This Post

About Author: Zainal Abidin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *