• kisah islami kecelakaan

SETELAH KEMATIAN SAUDARINYA…

 

Dahulu, aku adalah seorang pemuda yang lalai dan jauh dari Allah. Aku tenggelam dalam kemaksiatan dan dosa. Maka ketika Allah menginginkan hidayah untukku, Ia menakdirkan sebuah kejadian yang mengembalikan kesadaranku dan mengantarku ke jalan yang benar…

Pada suatu hari, setelah kami menghabiskan hari-hari yang indah di taman rekreasi keluarga di Kota Dammam, aku pun mengendarai mobilku bersama ketiga saudariku melintasi jalur cepat antara Dammam dan Riyadh. Alih-alih membaca doa perjalanan, syetan malah mendorongku untuk mendengar musik.

Aku larut mendengarkan hal terlarang itu dan larut dalam kelalaianku pada Allah. Saat itu, aku sama sekali tidak pernah tertarik untuk mendengarkan siaran radio al-Qur’an atau mendengarkan kaset-kaset para syekh dan ulama yang bermanfaat. Karena memang kebenaran dan kebatilan tidak akan pernah berkumpul dalam satu hati untuk selamanya.

Salah seorang saudariku adalah gadis yang shalehah, taat dan banyak berdzikir kepada Allah…Ia memintaku untuk mematikan suara musik dan menggantinya dengan suara kebenaran (al-Qur’an). Tetapi…aku tidak menanggapinya. Syetan telah menguasaiku dan seluruh anggota tubuhku. Aku menolak permintaannya, dan kedua saudariku yang lain sepakat denganku…

Saudari shalehahku itu mengulangi permintaannya, namun aku justru semakin bertambah keras kepala. Kami malah mempermainkan dan memperolok-oloknya. Aku bahkan mengatakan padanya: “Kalau engkau tidak senang, aku akan menurunkannya di pinggir jalan!”

Ia pun terdiam membisu. Ia telah menyampaikan ketidaksukaannya dan telah menunaikan apa yang seharusnya ia lakukan. Dan Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sebatas kesanggupannya…

Tiba-tiba…dengan takdir Allah yang telah mendahului segalanya, salah satu ban mobilku pecah, padahal kami sedang melaju dengan sangat kencang. Mobil itupun keluar dari jalan raya dan meluncur dengan cepat.

Kepala kami akhirnya berada di bawah setelah mobil itu berguling-guling hingga beberapa kali. Kami benar-benar berada dalam kondisi yang hanya Allah saja yang tahu betapa mengerikannya. Orang-orang pun berkumpul di sekitar mobil kami yang terbalik. Mereka pun mengeluarkan kami dari sela-sela keping-keping kaca yang berserakan…

Tapi apa yang telah terjadi?

Kami semua berhasil keluar dengan selamat meski dengan sedikit luka ringan. Tapi saudari shalehahku…saudariku yang penyabar…Saudariku yang baik itu…ia telah menghembuskan nafas terakhirnya di bawah reruntuhan itu.

Benar, saudari tercinta yang telah kami permainkan itu, Allah telah memilihnya untuk kembali ke sisiNya. Dan sungguh, aku berharap ia termasuk dalam barisan para syuhada’. Aku berharap Allah berkenan mengangkat kedudukannya di dalam surga yang dipenuhi kenikmatan…

Adapun aku, aku menangisi diriku sendiri sebelum menangisi saudariku itu. Tabir itu kini terbuka untukku. Aku kini menyadari hakikat diriku dengan semua kelalaianku.

Aku tahu bahwa Allah telah menginginkan kebaikan untukku, dan menetapkan sebuah usia baru untukku. Agar aku dapat memulai sebuah kehidupan baru yang dipenuhi dengan iman dan amal shaleh. Sedangkan saudari tercintaku itu, setiap kali aku mengingatnya, air mata kesedihan dan penyesalanku mengalir. Aku bertanya kepada diriku: apakah Allah mau mengampuniku?

Maka aku menemukan jawabannya di dalam Kitabullah, ketika Ia berfirman:

“Katakanlah: wahai hamba-hambaKu yang telah melampaui batas atas diri mereka, janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah itu mengampuni seluruh dosa, sesungguhnya Ia itu Maha pengampun lagi Maha penyayang.”

Akhirnya, aku mengingatkan Anda semua –wahai saudara-saudaraku di jalan Allah-untuk tidak lalai. Sadarlah segera, wahai orang-orang yang lalai…Ambillah pelajaran dari orang lain sebelum orang lain mengambil pelajaran dari diri kalian.

 

Wahai yang lalai larut dalam kejahilan dan hawa nafsu

Tenggelam dalam angan, tidak lama lagi engkau menyesal

Sadarlah, karena hari itu telah begitu dekat

Di mana tidak ada lagi selain surga atau panas neraka yang membakar

 

***

 

Alih bahasa:

Muhammad Ihsan Zainuddin

Sumber: al-Mausu’ah al-Kubra li al-Qashash al-Mu’atstsirah li al-Fatayat.

Share This Post

About Author: adminkio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *