• ihsan-pesawat

PANDUAN RAMADHAN 11: HUKUM PUASA SANG MUSAFIR (Bagian 1)

 

Kata “Musafir” berasal dari kata “al-Safar” yang berarti perjalanan. Sehingga “Musafir” bermakna: orang yang melakukan suatu perjalanan. Dalam hal ini, sudah dimaklumi dan menjadi konvensi bahwa “perjalanan” yang dimaksud adalah perjalanan antar kota dimana seseorang meninggalkan tempat bermukim atau berdiamnya. Sehingga seseorang yang hanya berjalan-jalan mengelilingi kotanya saja tidaklah disebut sebagai “musafir”. Wallahu a’lam.

 

Nah, terkait hukum berpuasa bagi seorang musafir, maka berikut beberapa poin penting terkait tentang itu:

 

Pertama, umat Islam sepakat bahwa seorang musafir dibolehkan untuk tidak berpuasa (berbuka) di bulan Ramadhan; baik ia dalam keadaan mampu untuk berpuasa ataupun tidak, entah itu puasa terasa berat baginya ataupun ringan; seperti jika bepergian lengkap dengan semua kenyamanannya, maka ia tetap diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan mengqashar shalatnya. (Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa, 25/210).

 

Kedua, untuk bisa berbuka atau tidak berpuasa dalam perjalanan bagi seorang musafir dipersyaratkan hal-hal berikut:

  1. Perjalanan tersebut memenuhi kategori “safar” baik secara jarak ataupun ‘urf (berdasarkan perbedaan pendapat di kalangan ulama: dimana ada yang menentukan suatu perjalanan dikategorikan sebagai “safar” dengan ukuran jarak tertentu –sekitar 70 hingga 80 km-, dan adapula yang hanya mengembalikannya kepada ‘urf; yang artinya jika perjalanan itu sudah dianggap “safar” dalam pandangan umum, maka ia adalah “safar” meskipun jaraknya kurang dari 70 km-penj).
  2. Sang musafir telah melampaui/melewati batas kotanya dan semua bangunan yang berhubungan dengannya. Jumhur ulama melarang sang musafir untuk berbuka/membatalkan puasanya sebelum meninggalkan (batas) negeri/kotanya, karena jika belum –menurut mereka- maka sang musafir belumlah menjadi “musafir”, dan masih dianggap sebagai seorang yang mukim; karenanya ia belum boleh membatalkan puasa dan mengqashar
  3. Perjalanan tersebut tidak diniatkan dan ditujukan untuk melakukan kemaksiatan, menurut Jumhur ulama.
  4. Perjalanan tersebut tidak diniatkan untuk bermuslihat agar dapat membatalkan puasa dan berbuka.

 

Ketiga, siapa yang bermaksud melakukan perjalanan di bulan Ramadhan, maka ia tidak boleh meniatkan untuk berbuka sampai ia mulai melakukan perjalanannya, karena boleh jadi ia akan mengalami sesuatu yang menghalanginya untuk melakukan perjalanan. (Lih: Tafsir al-Qurthuby, 2/278)

Maka sang musafir tidak berbuka kecuali setelah meninggalkan batas bangunan kota, atau ketika pesawat yang ditumpanginya mulai terbang dan meninggalkan bangunan kota.

Jika bandara terletak di luar batas kotanya maka ia boleh berbuka di bandara tersebut. Namun jika bandara terletak di dalam batas kotanya, maka ia belum boleh berbuka atau membatalkan puasanya di situ.

 

Keempat, jika matahari telah terbenam dan sang musafir akhirnya berbuka di darat, lalu ia menaiki pesawat dan pesawat lepas landas, kemudian ternyata di udara matahari masih terlihat dan belum terbenam, maka sang musafir tidak perlu berpuasa atau menahan lagi, karena ia telah menunaikan puasanya hari itu dengan sempurna, sehingga tidak perlu diulangi lagi.

Jika pesawat itu lepas landas sebelum maghrib dan sang musafir bermaksud menyempurnakan puasanya, maka tidak berbuka kecuali jika melihat matahari terbenam di tempat mana ia berada di udara.

Dan sang pilot tidak boleh menyengaja untuk menurunkan ketinggian pesawatnya hingga matahari tak terlihat agar dapat berbuka; karena yang semacam ini adalah muslihat (tahayul).

Namun jika sang pilot menurunkan ketinggian pesawat untuk kepentingan/kemaslahatan penerbangan, hingga lingkaran matahari tertutupi, maka ia dapat berbuka. (Fatwa lisan Syekh Ibn Baz kepada Syekh al-Munajjid).

 

***

Disiapkan oleh:

Muhammad Ihsan Zainuddin

 

Sumber:

Syekh Muhammad Shalih al-Munajjid, Sab’uuna Mas’alah fi al-Shiyam

 

 

Share This Post

About Author: adminkio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *